One of my turning point

Dulu saya sangat dingin, sangat sangat dingin.
Hingga ada seorang teman yang bisa menghangatkan hati saya.
Membuat saya berbuat karma baik.

Jujur pertama kalinya dalam hidup saya yang bahkan
tidak pernah saya lakukan terhadap pasangan saya.
Perhatian yang saya curahkan sangat tulus
karena saya peduli dengannya.
Tapi, seolah semesta menunjukkan pada saya.
Ini bukan kamu.
Walaupun saya nyaman seperti itu.
Tapi semesta menarik saya dengan menunjukkan
bahwa orang ini tidak pantas saya perlakukan demikian.

Aneh memang, bagaimana mungkin semesta bermain-main.
Atau memang entah semesta menginginkan saya menjadi saya yang dingin saja daripada saya yang hangat.
Mungkin dunia ini tidak butuh hangat dari saya.
Ah sudalah, semesta memang suka bercanda.
Sepi, sendiri, dingin. Memang sudah seharusnya milik saya.

Saya tidak ingin lagi menjadi mentari.
Saya ingin menjadi angin yang berhembus pada siapa saja yang berlindung mengharap hangat.
Saya ingin menjadi hujan yang tidak diharap.
Sunyi yang berderap.
Dan gelap yang bertiarap.
Saya ingin menjadi saya.

Terima kasih kepada siapa pun
yang membuat saya
berpetualang
melihat diri saya,
yang saya sendiri pun
tidak akan pernah bayangkan.

Terima kasih pada semesta yang masih
menganggap saya ada.
Meski itu hanya lelucon belaka.


No comments: